CERPEN ZIARAH MAKAM BATU LAYAR
ZIARAH KE MAKAM BATU LAYAR
Karya : Baiq Mustika Cahayaningsih
Rembulan bersinar sangat cerah, saat itu aku sedang duduk di teras rumah bersama kedua orang tuaku sembari memnikmati hembusan angin yang membekukkan hati, sedangkan kedua adikku sedang menonton televisi di dalam rumah. Rumahku berda di Sandik, Batulayar Lombok Barat. Saat duduk di teras kami bercanda gurau. Orang tuaku menceritakan bagaimana masa kecil mereka yang sangat menyenangkan, bagaimana masa kecil mereka yang penuh tantangan, berbeda dengan masa kecil ku dan masa kecil adik-adikku.
Saat sedang asik bercanda gurau, handphone ayahku berdering “cring-cring-cring” menandakan bahwa ada panggilan masuk, ayahku langsung berlari mengangkat handphone di atas kulkas ternyata itu adalah panggilan dari pamanku. Ayah dan pamanku mengobrol, setelah ayahku menutup telpon. Ia kembali duduk di teras bersama aku dan ibuku. Lalu ayahku mengatakan “besok hari Minggu kita di undang untuk berziarah ke makam Batu Layar, anaknya pamanmu akan ngurisan”. (Ngurisan adalah tradisi yang ada di pulau Lombok saat anak bayi yang baru lahir dengan memotong sedikit rambutnya dengan melantunkan ayat suci Al-Quran yang biasa di sebut dengan “selakar atau selakaran”). “Minggu? Kita ngurisan saja ?“ tanyaku. “Kita sekalian ziarah makam saja, ibumu katanya mau pergi ziarah juga hari minggu” jawab ayahku. “betul bu?” tanyaku kepada ibuku. “iya, ibu ingin berziarah, meminta doa agar selalu diberikan kesehatan” jawab ibu. “ooo baiklah bu, besok aku ikut” Ucapku kembali. Setelah membahas ziarah kami melanjutkan dengan pembicaraan yang lain, hingga tak sadar malam semakin larut dan kami masuk untuk tidur.
Di pagi minggu yang cerah, aku sekeluarga bersiap siap untuk pergi ke makam Batu layar. Jarak makam Batu Layar dan rumahku bisa dibilang cukup dekat sekitar 10km dengan jangka waktu hanya 10 menit. Aku dan keluarga menggunakan dua motor, aku berboncengan bersama adikku yang kedua, orang tuaku bersama dengan adikku yang paling kecil. Setelah siap kami langsung berangkat. Di perjalanan aku merasa kedinginan karena udara pagi yang cukup sejuk. Setelah melakukan perjalanan akhirnya kami sampai di makam Batulayar, lokasi mkam Batulayar ini sangat strategis, berada persis di pinggi Jalan Raya Senggigi Lombok Barat yang menyusuri pantai Batulayar. Maka dari itu, kami parkir motor di pinggir jalan. Lalu kami berjalan menuju pintu masuk ke makam Batulayar dan melewati tangga-tangga yang cukup banyak.
Pemandangan di lokasi makam Batu layar ini sangat indah, karena posisi makam yang lebih tinggi sehingga para pengunjung bisa memandang jauh lepas ke Pantai Batulayar. Sampainya di atas ibuku mengatakan “kita pergi ziarah makam saja dulu, rombongan pamanmu pasti belum datang”, “ya sudah kita pergi ziarah saja dulu” jawab ayahku. Lalu kami berjalan menuju makam, sesampainya di depan makam kami langsung membaca yasin dan Tahlil lalu ibuku meletakkan air mineral di depan makam dengan niat ibuku ingin selalu diberikan kesehatan. Makam ini menurut kepercayaan setempat merupakan makam keturunan Nabi Muhammad SAW. Tapi ada juga yang mengatakan, makam tersebut merupakan tempat peristirahatan tokoh Islam berkebangsaan Baghdad bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami.
Konon katanya, Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami di percaya sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di Indonesia. Alkisah, ia datang ke Lombok untuk melakukan syiar agama. Setelah agama Islam sempurna, ia ingin kembali ke negara asalnya. Saat akan pulang ia diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, ia duduk di atas batu dan menyerupai batu. Tak lama dtanglah hujan lebat disertai angin kencang. Pada saat itulah Syeh Sayid menghilang dan yang tertinggal hanyalah Seonggok batu tersebut. Dari cerita tersebut kemudian melahirkan kisah bahwa ia di makamkan di makam Batulayar, padahal yang di makamkan di sana bukanlah jasad beliau melainkan kopiah dan sorban yang ia tinggalkan. Maka dari itu, sampai saat ini makam tersebut di sebut makam Kramat Batulayar dan menurut kepercayaan bisa digunakan untuk membayar nazar atau janji, doa, maupun keinginan. Selain ziarah makam, di makam Batulayar ini juga sering diadakan proses ngurisan yang anak pamanku lakukan hari ini.
Setelah aku selesai ziarah kubur aku berjalan ke rombongan pamanku untuk melihat tradisi ngurisan, selain untuk mencukur sedikit rambut bayi dalam proses ngurisan juga ada namanya jurakan kepeng(uang), Jurakan kepeng di lakukan setelah ngurisan. Jurakan ini adalah proses melempar uang logam kepada pengunjung yang menunggu di tempat yang lebih rendah, proses ini dilakukan oleh satu orang perwakilan dari bayi yang membawa nampan (nare) air berisi rampe(bunga) dan gunting serta uang logam. Ada 5 bayi yang akan melakukan tradisi ngurisan ini, setelah siap selakaran pun di mulai. Selakaran berlangsung selama kurang lebih 15 menit, setelah selakaran selesai ini adalah saat yang ku tunggu yaitu jurakan kepeng. Salah satu orang pembawa nampan (nare) mulai melempar aku yang berada di tengah keramaian pengunjung yang ikut antusias dengan tradisi ini pun sangat bersemangat. Uang di lempar aku pun gerak cepat untuk mencari kemana uang-uang itu tersebar, tak heran tanganku seringkali di injak oleh pengunjung lain dan seringkali aku mendorong pengunjung lain demi mendapatkan uang yang di lempar pada tradisi jurakan ini. Keringatku bercucuran, anggap saja olahraga pagi di tengah keramaian.
Setelah uang yang di lemparkan habis pengunjung pun bubar. Usahaku tak mengkhianati hasil, uang yang aku dapatkan lumayan banyak, katanya uang yang kita dapatkan ini tidak boleh di gunakan untuk belanja tetapi aku selalu menggunakan uang hasil jurakan ini untuk belanja lumayan untuk nambah uang jajan hehehe.... Setelah tradisi ngurisan berlangsung aku sekeluarga dan rombongan pamanku makan, saat menikmati makanan adikku yang kedua bertanya kepadaku “kak, aku juga dapat banyak uang tadi” “oh ya? Kamu ikut jurakan?” tanyaku. “iya dong dapat 5000” jawab adikku, “bagus, lumayan pakai beli es krim” ucapku. Lalu setelah kami selesai makan dan ngobrol. Tidak terasa jam sudah berada pada pukul 11. Maka aku dan keluarga berpamitan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, aku langsung mengganti pakaianku dan aku mengajak kedua adikku untuk pergi beli es krim menggunakan uang hasil jurakanku. Sungguh hari yang sangat berkesan karena selain pergi berziarah aku juga bisa mendapatkan uang dari hasil jurakan.
Mantap.. cerpennya keren banget.. semangat untuk terus nulisnya
BalasHapusCeritanya menarik. Kembangkan👍
BalasHapusRembulan nya indah
BalasHapusSangat menarik, terus lanjutkan.
BalasHapusKerennnn, semangattt kakk
BalasHapusterimakasih kak ceritanya ternyata adeknya pinter juga ikut berubatan kepng🥰😂
BalasHapusBegituulah ceritenyeee
BalasHapusCerpen nya bagus, tetap semangat dalam berkarya
BalasHapusCerpennya bagus, semangat💪
BalasHapusSemangat berkarya, dek🔥
BalasHapusNaiss cerpen, bahasannya seperti Sy yang melakukan kegiatan tradisi ini. Terus dikembangkan dik Tika
BalasHapusKeren👍👍semangat terus
BalasHapusBagus bingitzz cerpennya. Semangat berkarya kaka
BalasHapusMantap, ditunggu cerita selanjutnya
BalasHapusKeren, semangat yaa
BalasHapusKeren🤙
BalasHapus